Sunday, 28 August 2011

8 Juni: Di MetroTV


Selama ini hanya bisa menonton. Sekarang saya datang ke studionya langsung. Ada 100 pelamar dalam program Management Development Program, MetroTV. Saya orang ke sekian buncitnya. Perasaan saya saat ini campur aduk, antusias sekaligus minder. Sensasi aneh yang memabukan.
Menarik. Saya memiliki kesempatan untuk 'berkunjung' langsung ke tempat program TV favorit saya di produksi. Di lantai dua, saya bisa melihat dari kejauhan acara 811 show sedang diproduksi. Wow...wow...wow...
Saya pengen bisa bertemu anchor – anchor favorit saya; Desi Anwar, Marrisa Anita, Prabu Revolusi, Prita Laura, dan Suryo Pratomo. Udik memang.
Saya berharap bisa bertemu figur yang disebutkan. Untungngya jarak saya denga eskalator hanya kurang lebih 10 meter. :)
Saya dapar menilik aktifitas di stasiun berita ini. Kalaupun saya tidak lolos. Paling tidak pengalamanlah yang saya dapatkan. Sesuatu yang bisa diceritakan kepada orang – orang terdekat saya.
Kalau diperhatikan dengan seksama, penampilan kandidat lain di hari ke-dua ini sangat maksimal. Saya bisa membayangkan bagaimana dengan hari pertama. Belum lagi kualifikasi dengan pengalaman yang tertera di resume. :(
Tapi entah kenapa saya yakin kalau saya juga tidak kalah. Meskipun saya juga tidak yakin ini keyakinan buta atau beralasan.

Yos

20 Maret 2011: Sehari ini saya habiskan di rumah dan di depan laptop.


Saya tidak ke gereja hari ini, karena beberapa alasan. Atau ada baiknya saya tulis, ya?

Pertama, saya tidak nyaman berada di sana. Saya merasa diawasi. 

Kedua, saya merasa kebutuhan spiritual tidak terpenuhi. Alih – alih mendapatkan penyegaran rohani, saya malah merasa butek dan kecewa. Entah kecewa terhadap apa.

Ketiga, saya kurang suka mengikuti kebaktian berbahasa jawa. Saya tidak bisa kusuk mengikutinya.

Dari ketiga alasan ini, memang semuanya self-centered. Namun demikian, saya tidak memaksakan diri untuk merasa bersalah atau berdosa. Saya masih bertumbuh. Saya tidak menutup mata kalau hal itu tidak benar. Adalah hal yang mustahil untuk memaksakan diri agar serta merta tumbuh menjadi orang yang saleh dalam waktu sekejab. Dalam kematangan spiritual, time matters!

Siangnya, saya dan ibu ngobrol ringan tentang banyak hal. Kami mengobrolkan banyak hal dari mulai urusan tetangga sampai yang lainya. Kadang penting bagi saya untuk mengetahui apa yang terjadi di sekitar. Saya haus akan informasi. 

Setelah beberapa saat mengobrol, sampailah pada topik yang jarang sekali dicetuskan oleh ibu. Dia bilang ada seorang pria yang mendekatinya. Saya tertawa mendengarnya. Umur ibu 50 tahun dan orang tersebut lebih tua darinya. Ibu bilang dia tetangga kosnya dulu ketika ibu ngajar di Jogja. Sampai sekarang dia belum meningkah. Orang itu getol ngejar – ngejar ibu. Rupanya dari muda, dia udah kesengsem sama ibu.

Lalu topik mulai melancar ke perningkahan. Ibu menerangkan bahwa dari jaman dulu perselingkuhan sudah lumrah. Seorang pria menghamili orang lain dan kumpul kebo. Dari cerita jamn dulu sampai cerita jaman sekarang. Yang saya tangkap dari situ, ibu mencoba untuk membenarkan perselingkuhan dan kumpul kebo dengan mengatakan bahwa sudah banyak orang yang melakukanya dari jaman dulu. 

Apakah dengan demikian ini benar dihadapan Allah?

Saya tidak berlagak menjadi polisi moral yang menghakimi. Karena menurut saya ketika saya menghakimi, standar itu akan dibalikan ke saya, saya lupa ayat yang mengatakan hal ini. Saya memang merasa belum cukup kuat. Saya merasa masih belum apa – apa dan tidak pantas menghakimi. Saya tidak punya lisensinya. Saya belum mengalami ujian – ujian yang memastikan kualitas pribadi saya.

Saat ini yang saya pikirkan yakni, belajar mencari hikmat Tuhan. Karena hanya dengan ini, kualitas sistem yang ingin saya capai tidak turun. Karena hidup dalam sistem Tuhan, kita harus take the high road and raise the bar!

10 Maret 2011: I lost my personal diaries and some good drafts!

I forgot that I had written some good works. Unfortunately, I put them away of my hardisk. I lost them, some of works that I really have put my mind into and can't afford to lose; around five personal diaries and four poems; We are early raisers now, Baby Blues; Katanya, I love her as much as she loves me, S(he), and Taken back, are after all what I could remember.

I was proud of my self. They were my confidence boosters! 

Did I say a confidence booster? 
That's the problem. My ability to write good piece has conquered me. My ego whispers to say nothing to credit God.

Confidence makes the ability stand tall and speaks for itself. In the end, it will turn into arrogance. That's where I've been in for some time. I laid my confidence and understanding on my self.

Through this happenstance, God reminds me of who the source of knowledge, wisdom, and intelligence is. It is Him!

When God want them back, who could afford to defense them to Him? 
To calm down my despair, I can tell myself that the world does not run into pieces when I lost them. It spins still. Hope is still here living in me, because the source of hope here, too.

Lesson learned
Rely your confidence on God!

Yos


Saturday, 27 August 2011

Don't hold onto them too tight!

Parents,
don't hold onto your children
too tight
because you can cripple them
hurt their wings

let them fly
on their own time
if once or twice, or even many times
they fall
don't worry
they can learn
and will learn

if they fail to fly
time and your support
are what they need

don't hold onto them too tight
you harm them
in many ways
you've never imagined

'Be good parents!'
who knows the right time
for offering helps

don't get afraid of being one
your children can see what is abandonment
and what is not
they are just like you

don't hold onto them too tight
be there
to watch over them

don't worry
as long as they follow His path
they are safe all the way

“Don't hold onto your children
too tight that God can't move them'

Wednesday, 24 August 2011

Basi

Ibarat Trasi
Terfermentasi
Impiku basi

Tak berhilir
Tak berakhir
Tak bergulir

Sejauh pikir

Seperti secuil
Kerikil
Di ujung kail
Mendamba hasil